Skip to main content
Berita

Dampak Kebijakan Tapering The FED terhadap Perekonomian Nasional Diperkirakan akan Relatif Mild

Dibaca: 16 | By 31 Jan 2022Juni 25th, 2024No Comments
LPS - Lembaga Penjamin Simpanan

LPS-Jakarta. Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) melalui Direktur Group Riset LPS Herman Saheruddin menjelaskan bahwa dampak kebijakan tapering yang dilakukan oleh Bank Sentral Amerika Serikat (The FED) terhadap perekonomian nasional diperkirakan akan relatif mild. Ia pun membandingkan pada tahun 2013 silam, dimana pada saat itu The FED tapering memberikan dampak yang signifikan terhadap perekonomian nasional. Hal itu disebabkan oleh karena cadangan devisa yang terbatas dan kepemilikan asing dalam Surat Berharga Negara (SBN) yang cukup tinggi.

“Namun pada Desember 2021, posisi cadangan devisa sebesar USD 144,9 miliar atau setara dengan pembiayaan 8,0 bulan impor atau 7,8 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri pemerintah,” ujarnya di acara Indonesia Risk Management Outlook 2021 oleh LPPI, pada Kamis (27/01/2021).

Menurutnya, cadangan devisa yang besar tersebut dapat menjadi buffer dalam melakukan kebijakan stabilisasi nilai tukar ketika terjadi tapering. Selain itu, rasio kepemilikan asing dalam SBN tercatat hanya sekitar 19,0 persen, yang membuat capital fight selama tapering akan lebih terbatas. Selain itu, industri perbankan nasional saat ini juga telah memiliki fundamental yang kuat dan stabil.

Baca juga:  Ketua DK LPS : Monetary Base Tumbuh Positif, Siap Mendukung Ekspansi Ekonomi Nasional

“Sehingga diperkirakan akan mampu mengantisipasi normalisasi kebijakan The FED, dengan ditopang oleh permodalan yang memadai serta likuiditas yang ample seiring dengan terus tumbuhnya Dana Pihak Ketiga,” jelasnya.

Kemudian, pada tahun 2022 ini pemulihan ekonomi global dan nasional akan terus berlanjut, namun menurut analisisnya, beberapa risiko perlu untuk diantisipasi, antara lain penyebaran COVID-19 varian Omicron, global supply chain constraint, peningkatan inflasi di Amerika Serikat serta tapering off kebijakan moneter The FED.

“Dengan berbagai sinergi langkah kebijakan extraordinary oleh Pemerintah bersama Lembaga-Lembaga anggota KSSK (Kemenkeu, BI, OJK, dan LPS), dampak tapering off diperkirakan akan relatif ringan. Selain itu, strategi komunikasi kebijakan The FED telah dilakukan dengan lebih transparan dan memberikan sinyal dikotomi antara tapering dengan peningkatan suku bunga acuan sehingga membantu para investor global untuk mengantisipasi risiko tapering ini dengan lebih baik,” tutupnya.

Tapering off sendiri merupakan pengurangan stimulus moneter yang dilakukan oleh bank sentral ketika perekonomian telah mengalami kelebihan likuiditas serta mengarah pada ancaman terjadinya inflasi. Kebijakan tersebut lantas mendapat perhatian dari banyak pihak, terutama investor yang khawatir dengan potensi dampak yang ditimbulkan terhadap pasar.

Bagikan:

Leave a Reply

made with passion and dedication by Vicky Ezra Imanuel